Senin, 12 April 2010

TUGAS B INDONESIA 2


NAMA : SURYONO
KELAS : 3EA11
NPM : 11207065



Seorang Wanita dan Adiknya

Aku dilahirkan di sebuah kampung yang terpencil. Hari demi hari, orang tuaku bekerja di ladang dan belakang mereka menghadap ke langit, rela menahan tikaman sinar matahari.

Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku. Suatu hari, adikku berkata pada ayah kami yang miskin, "Ayah, saya tidak mau melanjutkan sekolah lagi, saya rasa saya telah cukup membaca banyak buku."

Tanpa tunggu lama lagi, Ayah mengayunkan tangannya dan memukul adikku pada wajahnya.

"Mengapa kau ini bodoh sangat? Ayah tetap akan menyekolahkan kamu berdua sampai selesai walaupun Ayah harus mengemis di jalanan!"

Aku menjulurkan tanganku selembut yang aku bisa ke muka adikku yang
membengkak, dan berkata, "Kamu anak laki-laki harus meneruskan
sekolah; kalau tidak kamu akan selalu sengsara dan tidak akan pernah meninggalkan jurang kemiskinan ini."

Aku, sebaliknya, telah memutuskan untuk tidak lagi meneruskan ke universitas. Siapa sangka keesokan harinya, sebelum subuh datang, adikku pergi meninggalkan rumah dengan beberapa helai pakaian lusuh. Dia menyelinap ke samping ranjangku dan meninggalkan secarik kertas di atas bantalku: "Kak, masuk ke universitas tidaklah mudah. Saya akan pergi mencari kerja dan mengirimu uang."

Aku memegang kertas tersebut di atas tempat tidurku, dan menangis dengan air mata bercucuran sampai suaraku hilang.

Tahun itu, adikku berusia 17 tahun. Aku 20. Dengan uang yang ayahku pinjam dari seluruh dusun, dan uang yang adikku hasilkan dari bekerja sebagai tukang bancuh simen, aku akhirnya sampai ke tahun ketiga (di universitas).

Suatu hari, aku sedang belajar di kamarku, ketika teman sekamarku masuk dan memberitahukan, "Ada seorang pemuda kampung menunggumu di luar sana!"

Mengapa ada seorang pemuda kampung mencariku? Aku berjalan keluar, dan
melihat adikku dari jauh, seluruh badannya kotor tertutup debu simen dan
pasir.

Aku bertanya, "Mengapa kamu tidak bilang pada teman sekamarku kamu adalah adikku?"

Dia tersenyum, "Lihat bagaimana penampilanku. Apa yang akan mereka pikir jika mereka tahu saya adalah adikmu? Apa mereka tidak akan menertawakanmu?"

Aku merasa iba, dan air mata menggenangi mataku. Aku menyapu debu-debu dari adikku semuanya, dan tersekat-sekat dalam kata-kataku, "Aku tidak perduli omongan siapa pun! Kamu adalah adikku apa pun juga! Kamu adalah adikku bagaimana pun penampilanmu..."

Dari sakunya, adikku mengeluarkan sebuah jepit rambut berbentuk rama-rama. Ia menyelitkan pada rambutku, dan terus menjelaskan, "Saya melihat semua gadis kota memakainya. Jadi saya pikir kamu juga harus memiliki satu."

Aku tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Aku menarik adikku ke dalam pelukanku dan menangis dan menangis.

Tahun itu, dia berusia 20. Aku 23. Kali pertama aku membawa tunanganku ke rumah, kaca jendela yang pecah telah diganti, dan kelihatan bersih di mana-mana. Setelah tunanganku pulang, aku menari seperti gadis kecil di depan ibuku.

"Bu, ibu tidak perlu menghabiskan begitu banyak waktu untuk membersihkan rumah kita!" Tetapi beliau berkata, "Adikmu yang membersihkan rumah ini. Lihat aja bekas luka di tangannya, dia terluka ketika memasang kaca jendela baru itu.."

Aku masuk ke dalam ruangan kecil adikku. Melihat mukanya yang kurus, seratus jarum terasa menusukku. Aku mengoleskan sedikit salep pada lukanya dan membalut lukanya. "Lukamu sakit ya" Aku menanyakannya.

"Tidak, tidak sakit. Saya sudah biasa dengan luka ini. Ingat, saya bekerja sebagai tukang bancuh simen di area konstruksi, batu-batu selalu jatuh di kakiku, jadi saya sudah biasa dan ...."
Dia hentikan bicara saat melihat aku membalikkan tubuhku memunggunginya, dan air mata mengalir deras turun ke wajahku.

Tahun itu, adikku 23. Aku berusia 26. Ketika aku menikah, aku tinggal di
kota. Banyak kali suamiku dan aku mengundang orangtuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak pernah mau. Mereka mengatakan, sekali meninggalkan kampung, mereka tidak akan tahu harus mengerjakan apa.
Adikku pun tidak setuju dengan saran aku dan suamiku, dia hanya berkata, "Kak, layanlah mertuamu aja. Saya akan menjaga ibu dan ayah di sini."

Suamiku menjadi direktur pada sebuah company. Kami menginginkan adikku mendapatkan pekerjaan sebagai manajer pada departmen pemeliharaan. Tetapi adikku menolak tawaran tersebut. Ia bersikeras memulai bekerja sebagai pekerja reparasi.

Suatu hari, adikku disengat elektrik ketika tengah menginstall sebuah kabel,
terus masuk klinik. Suamiku dan aku pergi menjenguknya. Melihat gips putih pada kakinya, saya kesal dan bertanya,

"Mengapa kamu menolak menjadi manajer? Manajer tidak perlu melakukan sesuatu yang merbahaya seperti ini. Lihat kamu sekarang, luka mu serius. Mengapa kamu tidak mau mendengar kami sebelumnya?"

Dengan tampang yang serius pada wajahnya, ia tetap pada keputusannya.

"Aku kasihan pada abang ipar, dia baru saja diangkat jadi direktur, dan saya tidak berpendidikan tinggi, tidak intelek. Jika saya menjadi manajer seperti itu, berita seperti apa yang akan dikirimkan?"

Mata suamiku dipenuhi air mata, dan kemudian keluar kata-kata aku yang sepatah-sepatah: "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!"

"Mengapa membicarakan masa lalu?" Adikku menggenggam tanganku.
Tambahkan Keranjang

0 komentar:

Posting Komentar